Minggu, 28 Juli 2013

Transpotition great arteries


KONSULTAN FETOMATERNAL RS HASAN SADIKIN BANDUNG



CTG Patologis


GAMBARAN KARDIOTOKOGRAFI  PATOLOGIS

I.               PENDAHULUAN

Pemantauan denyut jantung janin (DJJ) dalam persalinan bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas janin yang dapat terjadi akibat asidosis metabolik atau hipoksia serebral selama persalinan. Keadaan janin yang buruk dapat terjadi selama kehamilan, tidak hanya dalam persalinan, dengan melakukan pemantauan denyut jantung janin, diharapkan keadaan gawat janin dapat diprediksi dini sehingga kehamilan/persalinan dapat segera diakhiri untuk mendapatkan keadaan janin yang lebih baik.
      Pemantauan denyut jantung dapat dilakukan secara intermiten (terputus) atau terus menerus (kontinyu). Pada umumnya pemantauan kontinyu dilakukan pada janin berisiko tinggi, sedangakan pada janin yang normal pemantauan dilakukan secara intermiten.
      Pemantauan DJJ  intrapartum selalu dihubungkan dengan kontraksi rahim dengan pencatatan kardiotokografi (KTG) dan disebut juga Electronic Fetal Monitoring (EFM) , sedangkan pemantauan saat kehamilan (antepartum) biasanya dihubungankan dengan gerakan janin yang dilakukan dengan uji tanpa beban (NST- Non Stress Test) atau uji dengan beban (Contraction Stress Test/CST , Oxytocin Challenge Test/OCT).

II.             INTERPRETASI GAMBARAN KARDIOTOKOGRAFI
Untuk dapat melakukan interpretasi gambaran KTG, beberapa hal harus diperhatikan yakni:
-       Evaluasi hasil rekaman, apakah benar dan adekuat untuk dilakukan pembacaan, misalnya apakah rekamannya kontinyu, apakah his terekam dengan baik.
-       Identifikasi frekuensi DJJ basal
-       Identifikasi variability baik long-term variability maupun short-term (beat to beat) variability
-       Tentukan ada tidaknya akselerasi dari DJJ basal
-       Tentukan ada tidaknya deselerasi dari DJJ basal
-       Identifikasi kontraksi rahim (his) termasuk regularitasnya, frekuensinya, intensitasnya, durasinya dan tonus basal diantara kontraksi.
-       Korelasikan akselerasi dan deselerasi dengan his, kemudian identifikasikan gambarannya.
-       Tentukan apakah gambaran tersebut termasuk normal, mencurigakan atau patologis.
Interpretasi gambaran denyut jantung  janin (FHR-Fetal heart rate) ditentukan dari 4 faktor yakni:
  1. Frekuensi DJJ Basal
  2. Amplitudo DJJ (Variabiliti)
  3. Akselerasi
  4. Deselerasi


1.     Frekuensi Denyut Jantung Janin Basal (Baseline fetal heart rate)
      Frekuensi rata-rata denyut jantung janin, di luar akselerasi dan deselerasi, atau di antara dua kontraksi.  Ditentukan dalam periode  tertentu, biasanya sekitar 5 – 10 menit. Pada janin prematur,  DJJ  basal     sering meningkat, namun tidak menunjukkan keadaan patologis.  Frekuensi  denyut jantung basal (baseline frequency) yang normal adalah antara  110 and 160 denyut per menit (DPM). Penentuan denyut jantung janin normal 120 – 160 denyut per menit didapatkan dari penemuan Von Winckel pada pertengahan abad ke 19, yang saat ini sudah berubah. 
Kelainan frekuensi DJJ basal dapat berupa melambatnya DJJ (bradikardia) atau peningkatan frekuensi DJJ basal (takhikardia).
Bradikardi ringan100-109 bpm
Takhikardi ringan 161-180 bpm
Bradikardi abnormal  <100 bpm
Takhikardi abnormal >180 bpm
Dalam menentukan interpretasi KTG, pertimbangkan apakah ibu dalah keadaan kehamilan atau persalinan, umur kehamilan, kala persalinan, presentasi fetus, malpresentasi, apakah dilakukan augmentasi oksitosin dan pemberian obat-obatan lainnya.

Bradikardi

http://2womenshealth.com/images/images-OH/Fetal-4.jpg
Gambar 1: Bradikardi (1)

Bradikardi dapat terjadi pada keadaan:
a.       Hipoksia janin yang berat/akut
b.       Hipotermi janin.
c.       Bradiaritmia janin
d.       Pemberian obat-obatan  pada ibu (propanolol, obat anesthesia lokal).
e.       Janin dengan kelainan jantung bawaan

Bila bradikardi antara 100-110 disertai dengan variabilitas yang masih normal biasanya menunjukkan keadaan hipoksia ringan dimana janin masih mampu mengadakan kompensasi terhadap keadaan hipoksia tersebut. Bila hipoksia janin menjadi lebih berat lagi akan terjadi penurunan frekuensi yang makin rendah (< 100 dpm) disertai dengan perubahan variabilitas yang jelas (penurunan variabilitas yang abnormal).

Takhikardi
Takhikardi dapat terjadi pada keadaan :
a.     Hipoksia janin (ringan / kronik).
b.     Kehamilan kurang bulan (< 30 minggu)
c.     Infeksi ibu atau janin.
d.     Ibu febris atau gelisah.
e.     Ibu hipertiroid.
f.      Takhiaritmia janin
g.     Obat-obatan (mis. Atropin, Betamimetik.).

     
http://2womenshealth.com/images/images-OH/Fetal-5.jpg
Gambar 2: Takhikardi (disertai variabiliti yang berkurang)1

Biasanya gambaran takhikardi tidak berdiri sendiri. Bila takhikardi disertai gambaran    variabilitas denyut jantung janin yang masih normal biasanya janin masih dalam kondisi          baik.



2.     Variabilitas Basal (Amplitudo)
           
Adalah fluktuasi amplitudo antar Denyut Jantung Janin.
Dibedakan 2 macam variabilitas, yakni:
            -    Variabilitas jangka pendek (short term variability)     
-       Variabilitas jangka panjang (long term variability)

http://2womenshealth.com/images/images-OH/Fetal-6.jpg
           
            Gambar 3 : Variabiliti berkurang(1)

Variabiliti   basal   yang   meragukan   (Non-reassuring baseline variability)  yakni bila variabilitas <  5 dpm selama 40 menit atau lebih, tetapi kurang dari  90 menit. Variabilitas basal abnormal bila amplitudo kurang dari 5 dpm selama 90 menit atau lebih.
Pada umumnya variabilitas jangka panjang lebih sering digunakan dalam penilaian kesejahteraan janin. Bila terjadi hipoksia otak maka akan terjadi perubahan variabilitas jangka panjang ini, tergantung derajat hipoksianya, variabilitas ini akan berkurang atau menghilang sama sekali. Sebaliknya bila gambaran variabilitas ini masih normal biasanya janin masih belum terkena dampak dari hipoksia tersebut.
Berkurangnya  variabilitas denyut jantung janin dapat juga disebabkan oleh beberapa keadaan yang bukan karena hipoksia, misalnya :
1.     Janin tidur (keadaan fisiologik dimana aktivitas otak berkurang).
2.     Kehamilan preterm (SSP belum sempurna).
3.     Janin anencephalus (korteks serebri tak sempurna).
4.     Blokade vagal.
5.     Kelainan jantung bawaan.
6.     Pengaruh abat-obat narkotik, diasepam, MgSO4 dsb.

Terdapat suatu keadaan variabilitas jangka pendek menghilang sedangkan variabilitas          jangka panjang tampak dominan sehingga membentuk ```gambaran sinusoidal.

http://2womenshealth.com/images/images-OH/Fetal-12.jpg
Gambar  4 :    Sinusoidal (1)

Hal ini sering ditemukan pada :
1.     Hipoksia janin yang berat.
2.     Anemia kronik.
3.     Fetal Erythroblastosis 
4.     Rh-sensitized.
5.     Pengaruh obat-obat Nisentil, Alpha prodine.

3.     Akselerasi
Kenaikan sementara frekuensi DJJ  sebanyak 15 dpm atau lebih,  selama 15 detik atau lebih. Akselerasi terjadi akibat respons simpatis yang merupakan keadaan fisiologis yang baik (reaktif). Dapat terjadi akibat pergerkan janin atau akibat adanya his. Dalam rekaman 20 menit, dinyatakan normal bila terdapat akselerasi 2 kali atau lebih.
      Dampak tidak adanya akselerasi saja pada gambaran KTG yang normal belum diketahui.

4.     Deselerasi
Penurunan  frekuensi DJJ sementara sebesar 15 dpm atau lebih di bawah frekuensi DJJ basal, yang berlangsung selama 15 detik atau lebih. Deselerasi terjadi sebagai respons parasimpatis melalui baroreseptor dan kemoreseptor sehinga terjadi perlambatan frekuensi DJJ.


Deselerasi dini
Perlambatan/penurunan sementara frekuensi DJJ yang seragam, berulang dan periodik, mulai pada saat kontraksi uterus dan berakhir pada saat kontraksi uterus selesai.
Pada deselerasi dini timbul dan menghilangnya sesuai dengan his ( seperti cermin gambaran his), penurunan frekuensi tidak lebih dari 20 dpm dan lamanya tidak lebih dari 90 detik. Frekuensi DJJ dasar dan variabilitas masih normal.

Deselerasi variabel.
Penurunan sementara frekuensi DJJ yang bervariasi (tidak seragam/ tidak uniform), baik saat timbulnya, lamanya, amplitudonya dan bentuknya.  Saat mulainya dan berakhirnya dapat sangat cepat dan penurunan DJJ dapat mencapai 60 dpm. Biasanya didahului dan diakhiri dengan akselerasi (akselerasi pra deselerasi dan pasca deselerasi).
            Deselerasi variabel terjadi akibat penekanan tali pusat yang dapat disebabkan karena lilitan tali pusat, oligohidramnion atau tali pusat menumbung. Apabila frekuensi DJJ basal dan variabilitas normal, maka deselerasi ini tidak mempunyai pengaruh berarti terhadap hipoksia janin. Merubah posisi ibu, memberikan amnioinfusion, atau pemberian oksigen dapat memperbaiki keadaan ini.
            Deselerasi variabel disebut berat apabila deselerasi mencapai 60 dpm atau lebih, frekuensi DJJ basal turun sampai 60 dpm dan lamanya deselerasi leboh dari 60 detik        ( rule of sixty). Pada keadaan seperti ini diperlukan pengakhiran persalinan.

Deselerasi lambat.

Penurunan sementara frekuensi DJJ yang timbulnya sekitar 20-30 detik setelah kontraksi uterus dimulai dan berakhir sekitar 20-30 detik setelah kontraksi uterus menghilang. Lamanya kurang dari 90 detik (rata-rata 40-60 detik), berulang pada setiap kontraksi, dan beratnya sesuai dengan intensitas kontraksi uterus. Frekuensi dasar denyut jantung janin biasanya normal atau takhikardi ringan,  tetapi pada keadaan hipoksia yang berat dapat terjadi bradikardi.
  Pada umumnya deselerasi lambat menunjukkan keadaan yang patologis.  Hal ini      menunjukkan adanya hipoksia janin akibat penurunan aliran darah uteroplasenta.. Jarak          waktu antara timbulnya kontraksi dan terjadinya deselerasi sesuai dengan waktu yang        diperlukan untuk rangsangan kemoreseptor dan n. vagus. Apabila  hipoksia belum sampai        menyebabkan hipoksia otak dan janin masih mampu mengadakan kompensasi untuk         mempertahankan sirkulasi otak, variabilitas DJJ biasanya masih normal.     Bila keadaan    hipoksia makin berat atau berlangsung lebih lama maka jaringan otak akan            mengalami hipoksia dan otot jantungpun mengalami depresi sehingga variabilitas DJJ         akan menurun dan menghilang pada saat kematian janin intrauterin.
C:\OBGYN\ENGLISH\PUBS\features\presentations\sharma01\FHR.jpg

Gambar 5 : berbagai jenis deselerasi(3)

http://2womenshealth.com/images/images-OH/Fetal-11.jpg

Gambar 6 : deselerasi memanjang (1)


III.           MENENTUKAN GAMBARAN KTG PATOLOGIS
Patofisiologi irama jantung janin sangat kompleks, regulasi kardiovaskuler, keadaan/kondisi susunan saraf simpatis dan parasimpatis, susunan saraf pusat,  baroreseptor, respirasi, regulasi suhu, sistem renin angiotensin, fungsi adrenal, sistem endokrin dan  kondisi dinding pembuluh darah. Semua ini mempengaruhi gambaran denyut jantung janin yang akan direkam pada kertas monitor, sehingga banyak faktor terutama keadaan ibu dan janin yang harus diperhitungkan selain membaca gambaran KTG.4
            Yang harus dilakukan untuk mencari gambaran KTG patologis yakni memperhatikan:
Denyut Jantung Janin (DJJ) Basal (baseline heart rate)
o   Amplitudo (variability) dan akselerasi
o   Deselerasi DJJ Assess
o   Menilai gambaran rekaman KTG sebagai normal, meragukan (non reassuring) atau abnormal`

Dalam menilai gambaran KTG, terdapat tiga kategori penilaian yakni:
1.     Gambaran yang meyakinkan (aman, reassuring)
2.     Gambaran yang meragukan (non reassuring)
3.     Gambaran yang abnormal

Untuk kepentingan tindakan pada janin, pemantauan KTG dibagi dalam:
1.     KTG Normal
2.     KTG Mencurigakan ( Suspicious)
3.     KTG Patologis

Gambaran KTG yang normal:
Bila ke empat komponen penilaian gambaran KTG normal.Gambaran KTG normal berhubungan dengan rendahnya kemungkinan gawat janin (kematian janin atau asfiksia janin) yakni bila:
•Denyut jantung janin  110 to 160 denyut per menit (dpm)
•Variabilitas / amplitude DJJ antara 5 – 25 dpm
•Pada kehamilan lebih dari 30 minggu, terdapat akselerasi DJJ lebih dari 15 kali permenit
  yang   dapat   timbul   spontan  atau  ditimbulkan dengan melakukan pemeriksaan dalam
  (vaginam).
•Pada kehamilan 23 – 30 minggu, akselerasi biasanya normal diatas 10 dpm.
•Tidak ada deselerasi.

Gambaran KTG yang mencurigakan:
1.Takhikardi
2.Bradikardi
3.Variabilitas saltatori
4.Terdapat variabel deselerasi bersamaan dengan keadaan meragukan lainnya
5.Deselerasi lambat dengan variabiliti yang normal

           
Gambaran KTG yang patologis:
1.Hilangnya variabiliti yang tidak berhubungan dengan medikasi, aktivitas janin atau obat-
   obatan.
2.Deselerasi lambat persisten
      3.Keadaan yang mencurigakan dengan hilangnya variabiliti
      4.Bradikardia yang memanjang
      5.Gambaran sinusoidal

Royal College of Obstetricians and Gynaecologists dalam panduan klinik berjudul The use and interpretation of cardiotocography in intrapartum fetal surveillance, dan dipakai pada semua senter yang mengacu pada RCOG (termasuk kolegium obstetric ginekologi Indonesia) menetapkan terminology pembacaan KTG sebagai berikut dibawah ini.

LEAD Technologies Inc. V1.01

LEAD Technologies Inc. V1.01

Dikutip dari (5)


IV.           KESIMPULAN

Kelemahan interpretasi KTG antara lain terjadi karena  rasa percaya diri yang berlebihan pada pembaca atau  perbedaan interpretasi antar pembaca maupun pada pembacaan ulangan. Kesalahan pembacaan (false positif) sekitar 50 %, sehingga penggunaan KTG meningkatkan kejadian seksio sesarea 1,41 kali dan meningkatkan tindakan partus buatan per vaginam sebanyak 1,2 kali. Kesalahan pembacaan dapat dikoreksi dengan menambahkan petunjuk asidosis lainnya yakni dengan  pemeriksaan pH darah janin (fetal blood sampling/fbs) yang mempunyai false positif sekitar 6%. Kejadian serebral palsi ternyata tidak berbeda, demikian juga dengan nilai APGAR, namun kejadian kejang pada neonatus berkurang sekitar 50%.

Dalam mengambil kesimpulan adanya       gawat     janin  serta     bagaimana pengelolaan selanjutnya, perlu dipertimbangkan macam-macam faktor pada ibu (stress kehamilan, penyakit ibu, demam, onat-obatan) faktor janin (premature, pertumbuhan janin terhambat, cacat janin) serta data klinik lainnya sehingga tindakan yang akan diambil benar-benar merupakan tindakan yang diperlukan.




DAFTAR PUSTAKA:

  1. Viniker DA, Cardiotograph- The Abnormal CTG, Women,s Health. Available at   
  1. Sharma LD, Electronic Fetal Monitoring Senior Lecturer, University Of Queensland, Australia Available at www.obgyn.net/educational-tutorials/sharma01/EFM.ppt
  2. Agus Abadi, Kardiotpgrafi Janin dalam Buku Ajar Fetomaternal, Ed. Haryadi R,Surabaya    , 170-183;2004.
  3. The Use Of Electronic Fetal Monitoring, Evidence based clinical guidelines no.8. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists.  2nd Ed. 51-52, 2006.
  4.  Herman PG, Cardiotocography in Textbook of Perinatal Medicine, Ed. Asim Kurjak,          
             Parthenon Publishing, 2; 1424-8, 1998


Sabtu, 27 Juli 2013

CTG Normal


GAMBARAN NORMAL KARDIOTOKOGRAFI
Yanuarman
Pendahuluan
            Salah satu upaya untuk mengurangi kematian janin dan perinatal serta mendeteksi kondisi hipoksia janin dalam rahim adalah dengan melakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan menggunakan krdiotokografi. Pemantauan dilakukan dengan mengamati pola gambaran denyut jantung janin yang tergambar dalam suatu gambaran dengan pola tertentu yang menyerupai diagram. Pada makalah ini akan dibahas mengenai gambaran pola tersebut yang menunjukkan kondisi normal pada janin.

Pemeriksaan Kardiotokografi pada masa kehamilan
            Pada awalnya pemeriksaan kardiotokografi dikerjakan saat persalinan. Namun kemudian terbukti bahwa pemeriksaan kardiotokografi ini banyak manfaatnnya pada masa kehamilan, khususnya pada kasus-kasus dengan faktor risiko untuk terjadinya gangguan kesejahteraan janin (hipoksia) dalam rahim seperti:
   1.Pasien antepartum dengan risiko tinggi yang kemungkinan mengalami insufisiensi
       uteroplasenta:
1.     Hipertensi dalam kehamilan
2.     Kehamilan dengan Diabetes Melitus
3.     Kehamilan post-term
4.     IUGR
5.     Ketuban pecah dini
6.     Gerakan janin berkurang
7.     Kehamilan dengan anemia
8.     Kehamilan ganda
9.     Oligohidramnion
10.  Polihidramnion
11.  Riwayat obstetri buruk
12.  Kehamilan dengan penyakit pada ibu.
  1. Pemantauan kontinyu intrapartum terutama kasus risiko tinggi
1. Induksi / augmentasi dengan oksitosin/prostaglandin
2. Auskultasi yang abnormal (takikardi, bradikardi atau deselerasi pada
    pemantauan intermiten)
3. Anaestesi epidural
4. Perdarahan intrapartum yang tidak diketahui sebabnya
5. Ibu demam
6. Cairan ketuban mekoneal
7. Setelah amniotomi
      8. Persalinan prematur


Mekanisme pengaturan denyut jantung janin
            Pengaturan denyut jantung janin dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
  1. Sistem saraf simpatis:
Sebagian besar berada dalam miokardium. Rangsangan saraf simpatis, misalnya dengan obat beta adrenergik akan meningkatkan frekuensi denyut jantung janin, menambah kekuatan kontraksi jantung, dan meningkatkan volume curah jantung. Dalam keadaan stres, sistem saraf simpatis ini berfungsi mempertahankan aktivitas jantung. Hambatan pada saraf simpatis, misalnya dengan beta blocker, akan menurunkan frekuensi dan sedikit mengurangi variabilitas denyut jantung janin.
  1. sistem saraf parasimpatis:
Terutama terdiri atas serabut n.Vagus berasal dari batang otak. Sistem saraf ini akan mengatur nodus SA, VA dan neuron yang terletak di antara atrium dan ventrikel jantung. Rangsangan n.Vagus misalnya dengan asetilkolin, akan menurunkan frekuensi djj, sedangkan hambatan n. Vagus misalnya dengan atropin akan meningkatkan denyut jantung janin.
  1. Kemoreseptor
Terdiri atas 2 bagian yaitu bagian perifer yang terletak di daerah karotid dan korpus aorta serta bagian sentral yang terletak pada batang otak. Reseptor ini berfungsi mengatur perubahan kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah serta otak.



  1. Susunan saraf pusat
Variabilitas djj akan meningkat sesuai aktivitas otak dan gerakan janin. Pada keadaan janin tidur, aktivitas otak menurun maka variabilitas djj juga akan menurun. Rangsangan pada hipotalamus akan menyebabkan takhikardia.
  1. Sistem Hormonal juga berperan dalam pengaturan denyut jantung janin.
Pada keadaan stres, misalnya asfiksia, maka medula adrenal akan mengeluarkan epinefrin dan noepinefrin dengan akibat takhikardi, peningkatan kekuatan kontraksi jantung dan tekanan darah.

Bagaimana mendeteksi denyut jantung janin dan kontraksi uterus
            Terdapat 2 cara untuk memonitor denyut jantung janin lebih dan kontraksi uterus. Cara pertama secara eksternal dan cara lain secara internal. Cara internal adalah dengan menggunakan elektrode yang diletakkan di kepala janin. Sedangkan cara eksternal adalah menggunakan elektrode yang diletakkan di seputar abdomen ibu hamil.
            Kontraksi uterus dipantau dengan menggunakan tokodinamometer yang sensitif terhadap perubahan tekanan yang diletakkan pada perut ibu pada cara eksterna. Pada cara interna adalah dengan mengukur langsung tekanan intrauterin, caranya dengan meletakkan semacam kateter intraamnion. Cara internal lebih rumit dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi intrauterin. Sedangkan cara ekstrauterin lebih mudah, nyaman dan aman digunakan oleh ibu hamil.
            Tokodinamometer dapat mengukur dan merekam frekwensi, regularitas, dan durasi kontraksi uterus. Tekanan intrauterin dan tanda klinis dapat dihubungkan dengan gambaran gejala yang timbul berdasarkan tingginya tekanan.
0 – 10  mmHg             : Tonus basal
 > 20    mmHg             : Kontraksi uterus, teraba pada abdomen
 > 25    mmHg             : Sakit, dikenal pada saat parturien
 > 50    mmHg             : Kontraksi efektif untuk mengeluarkan janin.
            Yang harus diwaspada dari todinamometer ini adalah gambaran hiperstimulasi yaitu terdapat kontraksi uterus lebih dari 5 kali dalam 10 menit. Kontraksi uterus lamanya lebih dari 90 detik. Kondisi-kondisi tersebut harus diwaspadai karena akan menyebabkan hipoksia pada uteroplasenter yang pada akhirnya menyebabkan hipoksia pada janin.

Base Line denyut jantung janin
            Base line adalah rata-rata denyut jantung janin selama pemantauan minimal 10 menit.
Tingkat base line dapat diklasifikasikan:
 > 180  bpm  takhikardia berat
            160  - 180  bpm  takhikardia sedang, tidak selalu patologis
            110  - 160  bpm  normal
            100  -  110 bpm  bradikardia ringan
                    < 100 bpm  bradikardia berat

Puncak Tonus
 
Kardiografi
 
Tokografi
 
3
 
2
 
1
 
Gambar 1: Gambaran kardiotokografi normal
Keterangan: base line 140-150 bpm, variabilitas > 5 bpm, akselerasi +, tidak terdapat deselerasi. Tokodinamometer: tonus 45-50 mmHg, frekuensi 3 x/10 menit,     lamanya 60-70 detik.

Perubahan periodik denyut jantung janin
            Perubahan pola DJJ dapat terjadi karena terjadinya keseimbangan antara saraf simpatis  dan parasimpatis dari janin. Simpatis meningkatkan aktifitas jantung dan parasimpatis berperan sebaliknya. Pada janin yang berada dalam kondisi baik dalam hal

 
ini kondisi otak dan sistim persarafan dicerminkan dengan adanya variabilitas yang normal. Variabilitas terdapat 2 macam yaitu: jangka pendek  (beat to beat variability) dan jangka panjang ( gelombang ritmik). Jangka pendek tidak bermakna secara klinis karena sulit untuk dianalisis secara visual, sedangkan jangka panjang sangat mudah untuk dinilai
Variabilitas dapat dikelompokkan;
  1. Absen atau variabilitas yang tidak terdeteksi
  2. variabilitas minimal ( < 5 beat per-minute (bpm))
  3. variabilitas moderat (6 – 25 bpm)
  4. Marked variability (> 25 bpm)
Hilangnya variabilitas dalam jangka lama harus difikirkan kondisi mencurigakan karena adanya hipoksia pada janin. Kondisi lain yang mempunyai gambaran yang sama adalah pada kasus immaturitas, janin tidur, atau penggunaan obat pada ibu yang menekan fungsi sistim saraf pusat.
Suatu keadaan variabilitas jangka pendek menghilang, sedangkan variabilitas jangka panjang tampak dominan sehingga tampak gambaran sinusoidal. Hal ini sering ditemukan pada: hipoksia janin berat, anemia kronik, fetal eritroblastosis, dll. Biasanya gambaran sinusoidal merupakan gambaran outcome janin yang buruk.
Akselerasi
            Akselerasi adalah meningkatnya djj dalam waktu yang pendek. Kriteria untuk akselerasi adalah 15 bpm atau lebih dengan durasi 15 detik atau lebih. Biasanya berhubungan dengan gerakan anak atau kontraksi uterus. Terdapatnya akselerasi salah satu kriteria kondisi janin dalam keadaan baik.
Akselerasi dapat dibedakan karena penyebab kontraksi uterus dan oleh karena gerakan janin.
  1. Uniform acceleration, terjadi karena kontraksi uterus
2.   Variable acceleration, terjadi karena gerakan atau rangsangan pada janin.                

Gambar 2 : Pada gambar 2 tampak akselerasi yang dipengaruhi oleh kontraksi uterus