Minggu, 28 Juli 2013
CTG Patologis
GAMBARAN KARDIOTOKOGRAFI PATOLOGIS
I.
PENDAHULUAN
Pemantauan
denyut jantung janin (DJJ) dalam persalinan bertujuan untuk mencegah morbiditas
dan mortalitas janin yang dapat terjadi akibat asidosis metabolik atau hipoksia
serebral selama persalinan. Keadaan janin yang buruk dapat terjadi selama
kehamilan, tidak hanya dalam persalinan, dengan melakukan pemantauan denyut
jantung janin, diharapkan keadaan gawat janin dapat diprediksi dini sehingga kehamilan/persalinan
dapat segera diakhiri untuk mendapatkan keadaan janin yang lebih baik.
Pemantauan denyut jantung dapat dilakukan
secara intermiten (terputus) atau terus menerus (kontinyu). Pada umumnya
pemantauan kontinyu dilakukan pada janin berisiko tinggi, sedangakan pada janin
yang normal pemantauan dilakukan secara intermiten.
Pemantauan
DJJ intrapartum selalu dihubungkan
dengan kontraksi rahim dengan pencatatan kardiotokografi (KTG) dan disebut juga
Electronic Fetal Monitoring (EFM) ,
sedangkan pemantauan saat kehamilan (antepartum) biasanya dihubungankan dengan
gerakan janin yang dilakukan dengan uji tanpa beban (NST- Non Stress Test) atau uji dengan beban (Contraction Stress Test/CST , Oxytocin Challenge Test/OCT).
II.
INTERPRETASI GAMBARAN KARDIOTOKOGRAFI
Untuk dapat
melakukan interpretasi gambaran KTG, beberapa hal harus diperhatikan yakni:
-
Evaluasi hasil rekaman, apakah benar
dan adekuat untuk dilakukan pembacaan, misalnya apakah rekamannya kontinyu,
apakah his terekam dengan baik.
-
Identifikasi frekuensi DJJ basal
-
Identifikasi variability baik long-term variability maupun short-term (beat to beat) variability
-
Tentukan ada tidaknya akselerasi
dari DJJ basal
-
Tentukan ada tidaknya deselerasi
dari DJJ basal
-
Identifikasi kontraksi rahim (his)
termasuk regularitasnya, frekuensinya, intensitasnya, durasinya dan tonus basal
diantara kontraksi.
-
Korelasikan akselerasi dan
deselerasi dengan his, kemudian identifikasikan gambarannya.
-
Tentukan apakah gambaran tersebut
termasuk normal, mencurigakan atau patologis.
Interpretasi gambaran denyut jantung janin (FHR-Fetal heart rate) ditentukan dari 4 faktor yakni:
- Frekuensi DJJ Basal
- Amplitudo
DJJ (Variabiliti)
- Akselerasi
- Deselerasi
1.
Frekuensi Denyut Jantung Janin Basal (Baseline fetal heart rate)
Frekuensi rata-rata denyut jantung janin,
di luar akselerasi dan deselerasi, atau di antara dua kontraksi. Ditentukan dalam periode tertentu, biasanya sekitar 5 – 10 menit. Pada
janin prematur, DJJ basal sering
meningkat, namun tidak menunjukkan keadaan patologis. Frekuensi denyut jantung basal (baseline frequency) yang normal adalah antara 110 and 160 denyut per menit (DPM). Penentuan
denyut jantung janin normal 120 – 160 denyut per menit didapatkan dari penemuan
Von Winckel pada pertengahan abad ke 19, yang saat ini sudah berubah.
Kelainan frekuensi DJJ basal dapat berupa melambatnya DJJ
(bradikardia) atau peningkatan frekuensi DJJ basal (takhikardia).
Bradikardi ringan100-109 bpm
Takhikardi ringan 161-180 bpm
Bradikardi abnormal <100 bpm
Takhikardi abnormal >180 bpm
Takhikardi ringan 161-180 bpm
Bradikardi abnormal <100 bpm
Takhikardi abnormal >180 bpm
Dalam menentukan interpretasi KTG, pertimbangkan apakah ibu
dalah keadaan kehamilan atau persalinan, umur kehamilan, kala persalinan,
presentasi fetus, malpresentasi, apakah dilakukan augmentasi oksitosin dan
pemberian obat-obatan lainnya.
Bradikardi

Gambar 1: Bradikardi (1)
Bradikardi dapat terjadi pada keadaan:
a. Hipoksia janin yang berat/akut
b. Hipotermi janin.
c. Bradiaritmia janin
d. Pemberian
obat-obatan pada ibu (propanolol, obat
anesthesia lokal).
e. Janin dengan kelainan jantung bawaan
Bila bradikardi antara 100-110 disertai dengan
variabilitas yang masih normal biasanya menunjukkan keadaan hipoksia ringan
dimana janin masih mampu mengadakan kompensasi terhadap keadaan hipoksia
tersebut. Bila hipoksia janin menjadi lebih berat lagi akan terjadi penurunan
frekuensi yang makin rendah (< 100 dpm) disertai dengan perubahan
variabilitas yang jelas (penurunan variabilitas yang abnormal).
Takhikardi
Takhikardi dapat terjadi pada keadaan :
a.
Hipoksia janin
(ringan / kronik).
b. Kehamilan kurang bulan (< 30 minggu)
c. Infeksi ibu atau janin.
d. Ibu febris atau gelisah.
e. Ibu hipertiroid.
f. Takhiaritmia janin
g. Obat-obatan (mis.
Atropin, Betamimetik.).

Gambar 2: Takhikardi (disertai variabiliti yang
berkurang)1
Biasanya gambaran takhikardi tidak berdiri sendiri. Bila
takhikardi disertai gambaran variabilitas
denyut jantung janin yang masih normal biasanya janin masih dalam kondisi baik.
2.
Variabilitas Basal
(Amplitudo)
Adalah fluktuasi amplitudo antar Denyut Jantung
Janin.
Dibedakan 2 macam variabilitas, yakni:
-
Variabilitas jangka pendek (short term variability)
-
Variabilitas jangka panjang (long
term variability)

Gambar 3 : Variabiliti berkurang(1)
Variabiliti basal yang meragukan
(Non-reassuring baseline variability) yakni bila variabilitas < 5 dpm selama 40 menit atau lebih, tetapi
kurang dari 90 menit. Variabilitas basal
abnormal bila amplitudo kurang dari 5 dpm selama 90 menit atau lebih.
Pada
umumnya variabilitas jangka panjang lebih sering digunakan dalam penilaian
kesejahteraan janin. Bila terjadi hipoksia otak maka akan terjadi perubahan
variabilitas jangka panjang ini, tergantung derajat hipoksianya, variabilitas
ini akan berkurang atau menghilang sama sekali. Sebaliknya bila gambaran
variabilitas ini masih normal biasanya janin masih belum terkena dampak dari
hipoksia tersebut.
Berkurangnya variabilitas denyut jantung janin dapat juga
disebabkan oleh beberapa keadaan yang bukan karena hipoksia, misalnya :
1.
Janin tidur
(keadaan fisiologik dimana aktivitas otak berkurang).
2.
Kehamilan
preterm (SSP belum sempurna).
3. Janin
anencephalus (korteks serebri tak sempurna).
4.
Blokade vagal.
5.
Kelainan
jantung bawaan.
6.
Pengaruh
abat-obat narkotik, diasepam, MgSO4 dsb.
Terdapat
suatu keadaan variabilitas jangka pendek menghilang sedangkan variabilitas jangka panjang tampak dominan sehingga membentuk
```gambaran sinusoidal.

Gambar 4 : Sinusoidal (1)
Hal ini sering ditemukan pada :
1. Hipoksia janin yang berat.
2. Anemia kronik.
3. Fetal
Erythroblastosis
4. Rh-sensitized.
5. Pengaruh obat-obat
Nisentil, Alpha prodine.
3.
Akselerasi
Kenaikan sementara
frekuensi DJJ sebanyak 15 dpm atau
lebih, selama 15 detik atau lebih. Akselerasi
terjadi akibat respons simpatis yang merupakan keadaan fisiologis yang baik
(reaktif). Dapat terjadi akibat pergerkan janin atau akibat adanya his. Dalam
rekaman 20 menit, dinyatakan normal bila terdapat akselerasi 2 kali atau lebih.
Dampak
tidak adanya akselerasi saja pada gambaran KTG yang normal belum diketahui.
4.
Deselerasi
Penurunan frekuensi DJJ sementara sebesar 15 dpm atau
lebih di bawah frekuensi DJJ basal, yang berlangsung selama 15 detik atau
lebih. Deselerasi terjadi sebagai respons parasimpatis melalui baroreseptor dan
kemoreseptor sehinga terjadi perlambatan frekuensi DJJ.
Deselerasi
dini
Perlambatan/penurunan sementara
frekuensi DJJ yang seragam, berulang dan periodik, mulai pada saat kontraksi
uterus dan berakhir pada saat kontraksi uterus selesai.
Pada deselerasi dini timbul dan menghilangnya
sesuai dengan his ( seperti cermin gambaran his), penurunan frekuensi tidak
lebih dari 20 dpm dan lamanya tidak lebih dari 90 detik. Frekuensi DJJ dasar
dan variabilitas masih normal.
Deselerasi variabel.
Penurunan sementara frekuensi DJJ yang bervariasi
(tidak seragam/ tidak uniform), baik saat timbulnya, lamanya, amplitudonya dan
bentuknya. Saat mulainya dan berakhirnya
dapat sangat cepat dan penurunan DJJ dapat mencapai 60 dpm. Biasanya didahului dan
diakhiri dengan akselerasi (akselerasi pra deselerasi dan pasca deselerasi).
Deselerasi
variabel terjadi akibat penekanan tali pusat yang dapat disebabkan karena
lilitan tali pusat, oligohidramnion atau tali pusat menumbung. Apabila
frekuensi DJJ basal dan variabilitas normal, maka deselerasi ini tidak
mempunyai pengaruh berarti terhadap hipoksia janin. Merubah posisi ibu,
memberikan amnioinfusion, atau
pemberian oksigen dapat memperbaiki keadaan ini.
Deselerasi
variabel disebut berat apabila deselerasi mencapai 60 dpm atau lebih, frekuensi
DJJ basal turun sampai 60 dpm dan lamanya deselerasi leboh dari 60 detik ( rule
of sixty). Pada keadaan seperti ini diperlukan pengakhiran persalinan.
Deselerasi lambat.
Penurunan sementara frekuensi
DJJ yang timbulnya sekitar 20-30 detik setelah kontraksi uterus dimulai dan
berakhir sekitar 20-30 detik setelah kontraksi uterus menghilang. Lamanya
kurang dari 90 detik (rata-rata 40-60 detik), berulang pada setiap kontraksi,
dan beratnya sesuai dengan intensitas kontraksi uterus. Frekuensi dasar denyut
jantung janin biasanya normal atau takhikardi ringan, tetapi pada keadaan hipoksia yang berat dapat
terjadi bradikardi.
Pada umumnya deselerasi lambat menunjukkan
keadaan yang patologis. Hal ini menunjukkan adanya hipoksia janin akibat
penurunan aliran darah uteroplasenta.. Jarak waktu
antara timbulnya kontraksi dan terjadinya deselerasi sesuai dengan waktu yang diperlukan untuk rangsangan kemoreseptor
dan n. vagus. Apabila hipoksia belum
sampai menyebabkan hipoksia otak
dan janin masih mampu mengadakan kompensasi untuk mempertahankan sirkulasi otak, variabilitas DJJ biasanya
masih normal. Bila keadaan hipoksia makin berat atau berlangsung lebih
lama maka jaringan otak akan mengalami
hipoksia dan otot jantungpun mengalami depresi sehingga variabilitas DJJ akan menurun dan menghilang pada saat
kematian janin intrauterin.

Gambar
5 : berbagai jenis deselerasi(3)

Gambar
6 : deselerasi memanjang (1)
III.
MENENTUKAN GAMBARAN KTG PATOLOGIS
Patofisiologi irama jantung janin
sangat kompleks, regulasi kardiovaskuler, keadaan/kondisi susunan saraf
simpatis dan parasimpatis, susunan saraf pusat,
baroreseptor, respirasi, regulasi suhu, sistem renin angiotensin, fungsi
adrenal, sistem endokrin dan kondisi
dinding pembuluh darah. Semua ini mempengaruhi gambaran denyut jantung janin
yang akan direkam pada kertas monitor, sehingga banyak faktor terutama keadaan
ibu dan janin yang harus diperhitungkan selain membaca gambaran KTG.4
Yang harus dilakukan untuk mencari gambaran KTG patologis
yakni memperhatikan:
Denyut Jantung Janin
(DJJ) Basal (baseline heart rate)
o
Amplitudo (variability) dan akselerasi
o
Deselerasi DJJ Assess
o
Menilai gambaran rekaman KTG sebagai
normal, meragukan (non reassuring) atau abnormal`
Dalam
menilai gambaran KTG, terdapat tiga kategori penilaian yakni:
1. Gambaran yang meyakinkan
(aman, reassuring)
2. Gambaran yang meragukan
(non reassuring)
3. Gambaran yang abnormal
Untuk kepentingan tindakan pada janin, pemantauan KTG dibagi dalam:
1. KTG Normal
2. KTG Mencurigakan ( Suspicious)
3. KTG Patologis
Gambaran KTG
yang normal:
Bila ke empat komponen penilaian gambaran KTG
normal.Gambaran KTG normal berhubungan dengan rendahnya kemungkinan gawat janin
(kematian janin atau asfiksia janin) yakni bila:
•Denyut jantung janin
110 to 160 denyut per menit (dpm)
•Variabilitas / amplitude DJJ antara 5 – 25 dpm
•Pada kehamilan lebih dari 30 minggu, terdapat akselerasi DJJ
lebih dari 15 kali permenit
yang dapat timbul spontan atau ditimbulkan
dengan melakukan pemeriksaan dalam
(vaginam).
•Pada kehamilan 23 – 30 minggu, akselerasi biasanya normal diatas 10 dpm.
•Tidak ada deselerasi.
Gambaran KTG yang mencurigakan:
1.Takhikardi
2.Bradikardi
3.Variabilitas saltatori
4.Terdapat variabel deselerasi bersamaan dengan keadaan meragukan lainnya
5.Deselerasi lambat dengan variabiliti yang normal
Gambaran KTG yang patologis:
1.Hilangnya variabiliti yang tidak berhubungan dengan
medikasi, aktivitas janin atau obat-
obatan.
2.Deselerasi lambat persisten
3.Keadaan yang mencurigakan
dengan hilangnya variabiliti
4.Bradikardia yang
memanjang
5.Gambaran sinusoidal
Royal College of Obstetricians and Gynaecologists
dalam panduan klinik berjudul The use and interpretation of
cardiotocography in intrapartum fetal surveillance, dan dipakai pada semua senter yang mengacu pada RCOG
(termasuk kolegium obstetric ginekologi Indonesia) menetapkan terminology
pembacaan KTG sebagai berikut dibawah ini.


Dikutip dari
(5)
IV.
KESIMPULAN
Kelemahan
interpretasi KTG antara lain terjadi karena rasa percaya diri yang berlebihan pada pembaca
atau perbedaan interpretasi antar
pembaca maupun pada pembacaan ulangan. Kesalahan pembacaan (false positif)
sekitar 50 %, sehingga penggunaan KTG meningkatkan kejadian seksio sesarea 1,41
kali dan meningkatkan tindakan partus buatan per vaginam sebanyak 1,2 kali.
Kesalahan pembacaan dapat dikoreksi dengan menambahkan petunjuk asidosis
lainnya yakni dengan pemeriksaan pH
darah janin (fetal blood sampling/fbs)
yang mempunyai false positif sekitar 6%. Kejadian serebral palsi ternyata tidak
berbeda, demikian juga dengan nilai APGAR, namun kejadian kejang pada neonatus
berkurang sekitar 50%.
Dalam
mengambil kesimpulan adanya
gawat janin serta
bagaimana pengelolaan selanjutnya, perlu dipertimbangkan macam-macam
faktor pada ibu (stress kehamilan, penyakit ibu, demam, onat-obatan) faktor
janin (premature, pertumbuhan janin terhambat, cacat janin) serta data klinik lainnya
sehingga tindakan yang akan diambil benar-benar merupakan tindakan yang
diperlukan.
DAFTAR
PUSTAKA:
- Viniker DA, Cardiotograph- The Abnormal CTG, Women,s
Health. Available at
- Sharma LD, Electronic Fetal Monitoring Senior Lecturer, University Of Queensland, Australia Available
at www.obgyn.net/educational-tutorials/sharma01/EFM.ppt
- Agus Abadi,
Kardiotpgrafi Janin dalam Buku Ajar Fetomaternal, Ed. Haryadi
R,Surabaya , 170-183;2004.
- The Use Of
Electronic Fetal Monitoring, Evidence based clinical guidelines no.8.
Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 2nd Ed. 51-52, 2006.
- Herman PG,
Cardiotocography in Textbook of Perinatal Medicine, Ed. Asim Kurjak,
Parthenon Publishing, 2; 1424-8, 1998
Sabtu, 27 Juli 2013
CTG Normal
GAMBARAN NORMAL KARDIOTOKOGRAFI
Yanuarman
Pendahuluan
Salah satu upaya untuk mengurangi
kematian janin dan perinatal serta mendeteksi kondisi hipoksia janin dalam
rahim adalah dengan melakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan menggunakan
krdiotokografi. Pemantauan dilakukan dengan mengamati pola gambaran denyut
jantung janin yang tergambar dalam suatu gambaran dengan pola tertentu yang
menyerupai diagram. Pada makalah ini
akan dibahas mengenai gambaran pola tersebut yang menunjukkan kondisi normal pada
janin.
Pemeriksaan Kardiotokografi pada masa kehamilan
Pada awalnya pemeriksaan kardiotokografi
dikerjakan saat persalinan. Namun kemudian terbukti bahwa pemeriksaan
kardiotokografi ini banyak manfaatnnya pada masa kehamilan, khususnya pada
kasus-kasus dengan faktor risiko untuk terjadinya gangguan kesejahteraan janin
(hipoksia) dalam rahim seperti:
1.Pasien antepartum
dengan risiko tinggi yang kemungkinan mengalami insufisiensi
uteroplasenta:
1. Hipertensi dalam kehamilan
2. Kehamilan dengan Diabetes Melitus
3. Kehamilan post-term
4. IUGR
5. Ketuban pecah dini
6. Gerakan janin berkurang
7. Kehamilan dengan anemia
8. Kehamilan ganda
9. Oligohidramnion
10. Polihidramnion
11. Riwayat obstetri buruk
12. Kehamilan dengan penyakit pada ibu.
- Pemantauan
kontinyu intrapartum terutama kasus risiko tinggi
1. Induksi / augmentasi dengan oksitosin/prostaglandin
2. Auskultasi yang abnormal (takikardi, bradikardi atau deselerasi pada
pemantauan intermiten)
3. Anaestesi epidural
4. Perdarahan
intrapartum yang tidak diketahui sebabnya
5. Ibu demam
6. Cairan ketuban mekoneal
7. Setelah amniotomi
8. Persalinan prematur
Mekanisme pengaturan denyut jantung janin
Pengaturan
denyut jantung janin dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
- Sistem saraf
simpatis:
Sebagian besar
berada dalam miokardium. Rangsangan saraf simpatis, misalnya dengan obat beta
adrenergik akan meningkatkan frekuensi denyut jantung janin, menambah kekuatan
kontraksi jantung, dan meningkatkan volume curah jantung. Dalam keadaan stres,
sistem saraf simpatis ini berfungsi mempertahankan aktivitas jantung. Hambatan
pada saraf simpatis, misalnya dengan beta blocker, akan menurunkan frekuensi
dan sedikit mengurangi variabilitas denyut jantung janin.
- sistem
saraf parasimpatis:
Terutama terdiri
atas serabut n.Vagus berasal dari batang otak. Sistem saraf ini akan mengatur
nodus SA, VA dan neuron yang terletak di antara atrium dan ventrikel jantung.
Rangsangan n.Vagus misalnya dengan asetilkolin, akan menurunkan frekuensi djj,
sedangkan hambatan n. Vagus misalnya dengan atropin akan meningkatkan denyut
jantung janin.
- Kemoreseptor
Terdiri atas 2
bagian yaitu bagian perifer yang terletak di daerah karotid dan korpus aorta
serta bagian sentral yang terletak pada batang otak. Reseptor ini berfungsi
mengatur perubahan kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah serta otak.
- Susunan
saraf pusat
Variabilitas djj
akan meningkat sesuai aktivitas otak dan gerakan janin. Pada keadaan janin
tidur, aktivitas otak menurun maka variabilitas djj juga akan menurun.
Rangsangan pada hipotalamus akan menyebabkan takhikardia.
- Sistem Hormonal
juga berperan dalam pengaturan denyut jantung janin.
Pada keadaan
stres, misalnya asfiksia, maka medula adrenal akan mengeluarkan epinefrin dan
noepinefrin dengan akibat takhikardi, peningkatan kekuatan kontraksi jantung
dan tekanan darah.
Bagaimana mendeteksi denyut jantung janin dan kontraksi uterus
Terdapat
2 cara untuk memonitor denyut jantung janin lebih dan kontraksi uterus. Cara
pertama secara eksternal dan cara lain secara internal. Cara internal adalah
dengan menggunakan elektrode yang diletakkan di kepala janin. Sedangkan cara
eksternal adalah menggunakan elektrode yang diletakkan di seputar abdomen ibu
hamil.
Kontraksi
uterus dipantau dengan menggunakan tokodinamometer yang sensitif terhadap perubahan
tekanan yang diletakkan pada perut ibu pada cara eksterna. Pada cara interna
adalah dengan mengukur langsung tekanan intrauterin, caranya dengan meletakkan
semacam kateter intraamnion. Cara internal lebih rumit dan meningkatkan risiko
terjadinya infeksi intrauterin. Sedangkan cara ekstrauterin lebih mudah, nyaman
dan aman digunakan oleh ibu hamil.
Tokodinamometer
dapat mengukur dan merekam frekwensi, regularitas, dan durasi kontraksi uterus.
Tekanan intrauterin dan tanda klinis dapat dihubungkan dengan gambaran gejala
yang timbul berdasarkan tingginya tekanan.
0 – 10 mmHg : Tonus basal
> 20 mmHg :
Kontraksi uterus, teraba pada abdomen
> 25 mmHg :
Sakit, dikenal pada saat parturien
> 50 mmHg :
Kontraksi efektif untuk mengeluarkan janin.
Yang harus diwaspada dari todinamometer
ini adalah gambaran hiperstimulasi yaitu terdapat kontraksi uterus lebih dari 5
kali dalam 10 menit. Kontraksi uterus lamanya lebih dari 90 detik.
Kondisi-kondisi tersebut harus diwaspadai karena akan menyebabkan hipoksia pada
uteroplasenter yang pada akhirnya menyebabkan hipoksia pada janin.
Base
Line denyut jantung janin
Base line adalah rata-rata denyut jantung janin selama
pemantauan minimal 10 menit.
Tingkat base line dapat diklasifikasikan:
> 180
bpm takhikardia berat
160 - 180
bpm takhikardia sedang, tidak
selalu patologis
110 - 160
bpm normal
100 - 110
bpm bradikardia ringan
< 100 bpm bradikardia berat
|
|
|
|
|
|

Gambar 1: Gambaran kardiotokografi
normal
Keterangan: base line 140-150 bpm,
variabilitas > 5 bpm, akselerasi +, tidak terdapat deselerasi.
Tokodinamometer: tonus 45-50 mmHg, frekuensi 3 x/10 menit, lamanya 60-70 detik.
Perubahan periodik denyut jantung janin
Perubahan pola DJJ dapat terjadi karena
terjadinya keseimbangan antara saraf simpatis
dan parasimpatis dari janin. Simpatis meningkatkan aktifitas jantung dan parasimpatis
berperan sebaliknya. Pada janin yang berada dalam kondisi baik dalam hal
ini kondisi
otak dan sistim persarafan dicerminkan dengan adanya variabilitas yang normal.
Variabilitas terdapat 2 macam yaitu: jangka pendek (beat
to beat variability) dan jangka panjang ( gelombang ritmik). Jangka pendek
tidak bermakna secara klinis karena sulit untuk dianalisis secara visual, sedangkan
jangka panjang sangat mudah untuk dinilai
|
Variabilitas dapat dikelompokkan;
- Absen atau
variabilitas yang tidak terdeteksi
- variabilitas
minimal ( < 5 beat per-minute (bpm))
- variabilitas
moderat (6 – 25 bpm)
- Marked variability (> 25 bpm)
Hilangnya variabilitas dalam
jangka lama harus difikirkan kondisi mencurigakan karena adanya hipoksia pada
janin. Kondisi lain yang mempunyai gambaran yang sama adalah pada kasus immaturitas,
janin tidur, atau penggunaan obat pada ibu yang menekan fungsi sistim saraf
pusat.
Suatu keadaan variabilitas
jangka pendek menghilang, sedangkan variabilitas jangka panjang tampak dominan
sehingga tampak gambaran sinusoidal. Hal ini sering ditemukan pada: hipoksia
janin berat, anemia kronik, fetal eritroblastosis, dll. Biasanya gambaran
sinusoidal merupakan gambaran outcome janin yang buruk.
Akselerasi
Akselerasi adalah meningkatnya djj dalam waktu
yang pendek. Kriteria untuk akselerasi adalah 15 bpm atau lebih dengan durasi
15 detik atau lebih. Biasanya berhubungan dengan gerakan anak atau kontraksi
uterus. Terdapatnya akselerasi salah satu kriteria kondisi janin dalam keadaan
baik.
Akselerasi dapat dibedakan karena penyebab
kontraksi uterus dan oleh karena gerakan janin.
- Uniform acceleration, terjadi karena
kontraksi uterus
2. Variable
acceleration, terjadi karena gerakan atau rangsangan pada janin.

Gambar 2 : Pada gambar 2 tampak akselerasi yang
dipengaruhi oleh kontraksi uterus
Langganan:
Komentar (Atom)


